Legenda: “Si Rusa dan Si Kulomang” (Cerita Rakyat Maluku)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Maluku yaitu legenda “Si Rusa dan Si Kulomang” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Alkisah, dahulu pada suatu masa, di Kepuluan Aru ada sebuah hutan yang lebat.

Di sana terdapat sekelompok rusa yang hidup di tengah hutan.

Kelompok rusa ini mampu berlari dengan cepat. Hal ini membuat mereka sangat bangga akan kemampuan larinya.

Bahkan penghuni hutan lain juga mengetahuinya.

Sehari-hari rusa-rusa ini mengisi hidup dengan mencari rumput.

Di samping itu mereka juga sering menantang binatang lainnya untuk adu lari.

Rusa-rusa tersebut bahkan dengan yakinnya mengatakan, bahwa jika rusa itu dapat mengalahkan lawannya, maka rusa tersebut akan mengambil tempat tinggal lawan.

Di pinggir hutan terdapat sebuah pantai yang sangat indah.

Disana hiduplah seekor siput laut yang bernama Kulomang.

Seperti diketahui, binatang Siput laut terkenal sebagai binatang yang cerdik dan sangat setia kawan.

Jarang sekali siput laut yang bersifat sombong.

Hingga pada suatu ketika, si Rusa datang ke tempat si Kulomang.

Kemudian rusa menantang si siput laut itu untuk adu lari hingga sampai di tanjung ke sebelas.

Seperti biasanya, sebelum pacu lari, rusa selalu mensyaratkan taruhan.

Kali ini taruhannya adalah pantai tempat tinggal sang siput laut.

Artinya, jika rusa menang adu lari, maka pantai akan jadi milik rusa.

Di dalam hati, si Rusa itu sangat yakin akan dapat mengalahkan si Kulomang.

Bukan saja jalannya sangat lambat, si Kulomang juga memanggul cangkang.

Cangkang itu biasanya lebih besar dari badannya.

Ukuran cangkang yang besar itu disebabkan oleh karena cangkang itu adalah rumah dari siput laut.

Rumah itu berguna untuk menahan agar tidak hanyut di waktu air pasang.

Dan ia berguna untuk melindungi siput laut dari terik matahari.

Mereka kemudian merencanakan hari adu lari.

Lalu pada hari yang ditentukan si Rusa sudah mengundang kawan-kawannya untuk menyaksikan pertandingan itu.

Sementara itu si Kulomang juga sudah menyiapkan sepuluh teman-temannya.

Setiap ekor dari temannya ditempatkan mulai dari tanjung ke dua hingga tanjung ke sebelas.

Sedangkan si Kulomang sendiri akan berada ditempat mulainya pertandingan.

Lalu tak lula si Kulomang memerintahkan agar teman-temanya menjawab setiap pertanyaan si Rusa.

Sesaat setelah pertandingan dimulai, si Rusa langsung berlari secepat-cepatnya mendahului si Kulomang.

Sementara si siput laut hanya bisa berjalan lambat.

Beberapa jam kemudian, si rusa sudah sampai di tanjung kedua. Nafasnya terengah-engah.

Dalam hati ia yakin bahwa si Kulomang mungkin hanya mencapai jarak beberapa meter saja.

Lalu si rusa berhenti sejenak sambil melihat ke kiri dan ke kanan, kemudian dengan sombongnya rusa berteriak-teriak:

“Kulomang, sekarang kau ada di mana?”

Kemudian tanpa diduga, tiba-tiba temannya si Kulomang pun menjawab: “aku ada tepat di belakangmu.”

Mendengar itu, alangkah terkejutnya si Rusa, ia tidak jadi beristirahat melainkan lari tunggang langgang.

Kejadian yang sama terjadi lagi dan lagi, setelah tanjung kedua, hal yang sama terjadi pada tanjung ketiga,

demikian juga pada tanjung keempat, hingga ke tanjung ke sepuluh.

Setiap rusa mengatakan dan bertanya tentang keberadaan si Kulomang, selalu saja ada yang menjawab bahwa dia ada di dekat si rusa.

Kemudian akhirnya, ketika memasuki tanjung ke sebelas, si Rusa sudah kehabisan napas. Ia jatuh tersungkur dan mati.

Hingga akhirnya, si Kulomang keluarlah sebagai pemenang pacu lari.

Ini artinya si Kulomang bukan saja dapat mengalahkan, namun juga memperdayai si Rusa yang sangat sombong dengan kecerdikan Si Siput Laut,

walau jalannya sangat lambat, tapi akalnya berfikir cepat.

Legenda: “Tujuh Anak Lelaki” (Cerita Rakyat Aceh)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Tujuh Anak Lelaki” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Pada suatu zaman di negeri Aceh ada sebuah kampung.

Disana terdapat sepasang suami-istri yang mempunyai anak sangat banyak yaitu tujuh orang anak laki-laki yang masih kecil.

Usia mereka cukup rapat, yang sulung paling tua berumur sepuluh tahun, sedangkan yang paling bungsu berumur dua tahun.

Mereka bekerja setiap hari untuk kebutuhan hidup mereka, sepasang suami-istri tersebut bercocok tanamsayur-sayuran untuk dimakan sehari-hari dan sisanya dijual ke pasar.

Walau hidup sangatlah sederhana, tapi mereka merasa bahagia karena setiap hari selalu rukun, damai, dan tenteram.

Kedamaian mereka pun terusik. Karena tanpa diduga kampung mereka dilanda musim kemarau yang sangat panjang.

Akibatnya segala tumbuhan mati karena kekeringan.

Kebanyakan warga juga mulai kekurangan makanan.

Lalu persediaan makanan mereka semakin hari semakin menipis, sementara musim kemarau tidak juga berhenti.

Hingga kemudian semua penduduk kampung mengalami musibah kelaparan, termasuk keluarga sepasang suami-istri bersama tujuh orang anaknya itu.

Karena situasi yang sangat susah, sepasang suami-istri tersebut menjadi panik.

Tanaman sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka tidak lagi tumbuh.

Mereka pun sadar karena tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menanam sayur-sayuran di kebun.

Mereka sudah berpikir keras mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, tapi tidak menemukan jalan keluarnya.

Lalu kemudian, dengan berat hati, mereka berniat untuk membuang ketujuh anak mereka ke sebuah hutan yang letaknya jauh dari perkampungan.

Hingga pada suatu malam, ketika ketujuh anaknya sedang tertidur pulas, keduanya bermusyawarah untuk mencari cara membuang ketujuh anak mereka.

Mereka pun mencari cara supaya tidak tahu oleh anak-anak bahwa mereka akan dibuang.

Sang suami pun berkata: “Besok pagi anak-anak kita ajak pergi mencari kayu bakar ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh.

Pada saat mereka beristirahat makan siang, kita berpura-pura mencari air minum di sungai”.

Ternyata, tanpa mereka sadari, rupanya anak ketiga mereka yang pada waktu itu belum tidur mendengar semua pembicaraan mereka.

Lalu pada esok hari, berangktlah sepasang suami-istri itu dan mengajak ketujuh putranya ke hutan untuk mencari kayu bakar.

Ketika sampai di hutan yang terdekat, sang Ayah pun berucap: “Anak-anakku semua!

Sebaiknya kita cari hutan yang luas dan banyak pohonnya, supaya kita bisa mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak lagi.

Ketujuh anak dengan kompak mengiyakan kata-kata sang ayah. Mereka menjawab dengan serentak.

Mereka pun kemudian berjalan cukup jauh, lalu sampailah mereka di sebuah hutan yang amat luas.

Alangkah gembiranya mereka, karena di hutan itu terdapat banyak kayu bakar.

Lalu mereka segera mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan.

Ketika hari menjelang siang, sang Ibu pun mengajak ketujuh anaknya untuk beristirahat melepas lelah setelah hampir setengah hari bekerja.

Di waktu itu pun, sepasang suami istri itu ingin mulai menjalankan recananya yaitu meninggalkan ketujuh anak mereka di tengah hutan itu.

Sang ayah pun berkata: “Wahai anak-anakku! Kalian semua beristirahatlah di sini dulu.

Aku dan ibu kalian ingin mencari sungai di sekitar hutan ini, karena persediaan air minum kita sudah habis.

Kembali ketujuh anak dengan kompak mengiyakan kata-kata sang ayah. Mereka menjawab dengan serentak.

Sesaat setelah itu, tiba-tiba si bungsu berkata supaya Ayah Ibunya jangan pergi lama-lama.

Sang Ayah dan Ibu pun menjawab dengan mengiyakan bahwa mereka tidak akan pergi lama.

Waktu pun berlalu, sudah sekian lama menunggu dan kedua orangtua mereka belum juga kembali, ketujuh anak itu mulai gelisah.

Semuanya cemas dan khawatir jika kedua orangtua mereka mendapat musibah.

Hingga kemudian si sulung pun mengajak keenam adiknya untuk pergi menyusul kedua orangtua mereka.

Tapi sebelum meninggalkan dan berangkat dari tempat itu, anak ketiga tiba-tiba angkat bicara.

Dia berujar: “Abang! Tidak ada gunanya kita menyusul ayah dan ibu. Mereka sudah pergi meninggalkan kita semua”

Dengan sangat heran dan terkejut, kemudian si sulung menanyakan kepada anak ketiga apakah maksud perkataan sang adik.

Anak ketiga mulai bicara: “Tadi malam, saat kalian sudah tertidur nyenyak, aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu.

Mereka sengaja meninggalkan kita di tengah hutan ini, karena mereka sudah tidak sanggup lagi menghidupi kita semua akibat kemarau panjang”.

Anak kedua pun bertanya: “Kenapa hal ini baru kamu ceritakan kepada kami?”

Anak ketiga menjelaskan bahwa dia takut ayah dan ibu akan marah kepadanya jika membuka rahasia tersebut.

Kemudian ketujuh anak itu tidak jadi pergi menyusul kedua orangtuanya, apalagi hari sudah mulai gelap.

Setelah itu mereka segera mencari tempat perlindungan dari udara malam.

Akhirnya tidak jauh dari tempat mereka berada, untunglah ada sebuah pohon besar yang batangnya berlubang seperti gua.

Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam lubang kayu itu hingga pagi hari.

Anak kedua pun bertanya: “Bang! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ke mana kita harus pergi?”.

Putra tertua menjawab: “Kalian tunggu di sini! Aku akan memanjat sebuah pohon yang tinggi.

Barangkali dari atas pohon itu aku dapat melihat kepulan asap. Jika ada, itu pertanda bahwa di sana ada perkampungan.

Ternyata benar, ketika berada di atas pohon, si Sulung melihat ada kepulan asap dari kejauhan.

Ia pun segera turun dari pohon dan mengajak keenam adiknya menuju ke arah kepulan asap tersebut.

Kemudian mereka berjalan cukup jauh, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan.

Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sebuah rumah yang sangat besar berdiri tegak di pinggir kampung.

“Hei lihatlah! Besar sekali rumah itu,” seru anak keempat.

“Waaahhh… jangan-jangan itu rumah raksasa,” sahut anak keenam.

Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah itu meminta mereka masuk ke dalam rumah.

Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu pun keluar. Rupanya, dia adalah raksasa betina.

“Hei, anak manusia! Kalian siapa?” tanya Raksasa Betina itu.

“Kami tersesat, Tuan Raksasa! Orang tua kami meninggalkan kami di tengah hutan,” jawab si Sulung.

Setelah mendengar kata anak kecil tersebut, lalu si Raksasa Betina merasa iba kepada mereka.

Setelah itu dia mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, lalu menghidangkan makanan dan minuman kepada mereka.

Oleh karena sudah kelaparan, ketujuh anak itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.

Kemudian dia berkata: “Habiskan cepat makanan itu, lalu naik ke atas loteng! Kalau tidak, kalian akan dimakan oleh suamiku. Tidak lama lagi ia datang dari berburu”

Karena ketakutan, mereka pun segera menghabiskan makanannya lalu bergegas naik ke atas loteng untuk bersembunyi.

Tidak lama kemudian, Raksasa Jantan pun pulang dari berburu. Waktu membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia mencium bau makanan enak.

“Waaahhh… sedapnya!” ucap raksasa jantan sambil menghirup bau sedap itu.

Dia pun bertanya: “Bu! Sepertinya ada makanan enak di rumah ini. Aku mencium bau manusia. Di mana kamu simpan mereka?”.

“Aku menyimpan mereka di atas loteng. Tapi mereka masih kecil-kecil. Biarlah kita tunggu mereka sampai agak besar supaya enak dimakan,” jawab Raksasa Betina.

Akhirnya Raksasa Jantan pun menuruti perkataan istrinya. Selamatlah ketujuh anak itu dari ancaman Raksasa Jantan.

Lalu pada esok hari, ketika si Raksasa Jantan kembali berburu binatang ke hutan, si Raksasa Betina pun segera menyuruh ketujuh anak lelaki itu pergi.

Tapi sebelum berangkat, si raksasa betina membekali mereka makanan seperlunya selama dalam perjalanan.

Bahkan, si Raksasa Betina yang baik itu membekali mereka dengan emas dan intan.

Dia pun berkata: “Bawalah emas dan intan ini, semoga bermanfaat untuk masa depan kalian”.

Si Sulung pun menjawab: “Terima kasih, Raksasa Jantan! Tuan memang raksasa yang baik hati”

Lalu mereka bertujuh berjalan cukup jauh menyusuri hutan lebat, menaiki dan menuruni gunung, akhirnya tibalah mereka di tepi pantai.

Kemudian dengan segera mereka membuat perahu kecil. Setelah bekerja keras membuat perahu dan selesai, lalu berlayar mengarungi lautan luas.

Mereka terus saja berlayar, tibalah mereka di sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana.

Di negeri itu mereka menjual semua emas dan intan pemberian raksasa kepada seorang saudagar kaya.

Dari hasil penjualan tersebut, kemudian mereka putuskan untuk membeli tanah perkebunan. Supaya bisa menghasilkan uang.

Setiap anak mendapat tanah perkebunan yang cukup luas. Ketujuh bersaudara itu sangat rajin bekerja dan senantiasa saling membantu.

Mereka terus bekerja tanpa kenal lelah. Setelah beberapa tahun mereka pun tumbuh menjadi pemuda-pemuda dewasa.

Karena upaya dan kerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki harta kekayaan yang banyak.

Setelah itu setiap anak dari tujuh bersaudara membuat rumah yang cukup bagus. Ketujuh lelaki itu pun hidup damai, tenteram dan sejahtera.

Hingga pada suatu ketika, tiba-tiba si Bungsu teringat dan merindukan kedua orangtuanya. Setelah itu dia segera mengundang keenam kakaknya datang ke rumahnya untuk bersama-sama pergi mencari kedua orangtua mereka.

Setelah berkumpul, si bungsu berkata: “Maafkan aku, Kakakku semua! Aku mengundang kalian ke sini,

karena ingin mengajak kalian untuk pergi mencari ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka, dan aku yakin, mereka pasti masih hidup”

Anak keenam menjawab dengan antusias: “Iya, Adikku! Kami juga merasakannya seperti itu.

Kami sangat rindu kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan kita semua.

Akhirnya mereka sepakat untuk pergi bersama mencari kedua orang tua mereka pada besok hari. mereka usahakan pagi-pagi sudah berangkat.

Pagi-pagi sekali, berangkatlah ketujuh orang bersaudara itu mencari kedua orangtua mereka.

Setelah berlayar cukup jauh mengarungi lautan luas, akhirnya tibalah mereka di sebuah pulau.

Mereka berjalan di pulau itu dari satu kampung ke kampung lain. Sudah puluhan kampung mereka datangi, namun belum juga menemukannya.

Tapi mereka tidak kenal lelah dan terus berusaha. Mereka sangat merindukan orang tua yang dicintai.

Akhirnya mereka pun menemukan kedua orangtua mereka di sebuah kampung dalam keadaan menderita.

Mereka semua sangat sedih melihat kondisi kedua orangtua. Lalu ketujuh anak itu mengajak orangtua mereka ke tempat tinggal yang susah payah dibangun.

Tujuh anak itu menyampaikan bahwa mereka sudah membuat rumah yang bagus, sebagai hasil kerja keras mereka.

Akhirnya kedua orang tua itu kondisi kesehatannya makin baik dan makin sehat. Apalagi mereka sudah bisa hidup bersama.

Semua kebutuhan kedua orang tua tersebut sudah bisa dipenuhi oleh tujuh orang anaknya yang sudah kaya raya.

Mereka pun selalu mengisi waktu untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Legenda: “Tadulako Bulili” (Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Sulawesi Tengah yaitu legenda “Tadulako Bulili” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Alkisah, dahulu pada suatu masa, di Sulawesi Tengah terdapat Desa Bulili. Di sana terdapatlah 3 orang tadulako atau panglima perang.

Mereka masing-masing bernama: Bantaili, Makeku dan Molove.

3 orang tadulako ini sangat terkenal karena mereka adalah panglima yang sakti dan pemberani.

Tugas utama mereka adalah menjaga keselamatan desa itu dari serangan musuh.

Jadi tak heran jika Desa Bulili selalu aman dan tekendali, rakyat nya pun merasa tidak ada gangguan sama sekali.

Mereka menikmati dengan tenang kehidupan disana.

Ada peristiwa yang cukup mengejutkan terjadi di desa itu, karena suatu hari datanglah seorang raja ke Desa Bulili.

Namanya adalah Raja Sigi. Setelah sekian waktu berkeliling desa, dia melihat seorang gadis cantik.

Karena terpesona akan kecantikan gadis Desa Bulili tersebut, akhirnya Sang Raja berniat menikahi sang gadis.

Ternyata gayung bersambut, si gadis dan keluarganya setuju dan menerima lamaran itu.

Lalu Raja Sigi dan gadis desa cantik tersebut sepakat untuk menikah.

Kemudian diadakanlah pesta pernikahan.

Penduduk desa akhirnya mengetahui bahwa seorang gadis desa Bulili sudah dinikahi oleh Raja Sigi.

Setelah menikah, Raja Sigi dan gadis desa menikmati kebersamaan bersama dan tinggal di Desa Bulili.

Beberapa bulan kemudian, ada senyum bahagia di wajah sepasang suami istri tersebut.

Ternyata si gadis sudah hamil, ini berarti mereka akan memiliki keturunan.

Setelah usia kandungan memasuki usia beberapa bulan.

Tiba-tiba Raja Sigi meminta ijin untuk kembali ke kerajaannya.

Dengan berat hati perempuan itu melepas suaminya.

Bulan demi bulan berlalu, hingga sudah lewat 9 bulan usia kandungan, sang raja sebagai suami tidak datang-datang juga.

Hingga akhirnya lahirlah seorang bayi tanpa didampingi oleh ayahnya.

Setelah beberapa hari bayi lahir, Raja Sigi belum muncul-muncul juga.

Hingga akhirnya pemuka-pemuka Bulili lalu memutuskan untuk mengirim utusan untuk menemui suami perempuan itu.

Utusannya adalah tadulako Makeku dan Bantaili. Dengan rasa pengabdian yang tinggi kedua Tadulako ini lalu berangkat menuju istana setelah mempersiapkan segala sesuatunya.

Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Selama perjalanan berbagai rintangan bisa mereka lalui.

Hingga akhirnya mereka sampai di istana Raja Sigi.

Ketika sampai di istana kerajaan. Betapa terkejutnya kedua tadulako ini.

Karena bukannya disambut dengan ramah.

Tetapi dengan sinisnya raja itu menanyakan maksud kedatangannya.

Kemudian kedua tadulako ini segera menguraikan maksud kedatangan mereka.

Lalu disampaikanlah bahwa mereka diutus untuk meminta padi di lumbung untuk anak raja yang baru lahir.

Kembali penghinaan mereka terima. Lalu dengan congkaknya raja Sigi menghina mereka.

Ia lalu berkata pada Tadulako itu:

“kalau mampu angkatlah lumbung padi di belakang rumah.”

Mendengar itu, Tadulako Bantaili naik pitam.

Lalu dengan sigapnya Tadulako Bantaili segera mengeluarkan kesaktian yang dimilikinya.

Semua penghuni istana jadi terperanjat, ternyata dia mampu mampu memanggul lumbung padi besar yang dipenuhi oleh padi.

Biasanya lumbung kosong saja hanya akan bergeser kalau diangkat oleh puluhan orang.

Sementara itu Makeku berjalan di belakang Bantaili untuk mengawal lumbung padi itu.

Lalu dengan sangat geram Raja Sigi memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka.

Kedua tadulako tadi terus saja pergi, tanpa bisa dikejar oleh pasukan raja.

Hingga akhirnya mereka sampai pada suatu tempat, di sana terbentanglah sebuah sungai yang sangat lebar dan dalam.

Tapi ternyata dengan kesaktian kedua tadulako tersebut, maka dengan mudahnya mereka melompati sungai itu.

Walaupun Bantaili melompat sambil menggendong lumbung padi yang berat,

tapi dia berhasil dengan mudahnya melompatinya tanpa ada banyak ceceran beras dari lumbung itu.

Sementara itu di belakang mereka, datanglah pasukan yang mengejar mereka.

Ternyata pasukan raja takut dan tidak berani melompati sungai besar yang berarus deras.

Melihat besarnya bahaya di depan mereka yaitu sungai besar dengan air mengalir deras, mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Dengan perasaan kecewa, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke istana kerajaan.

Legenda: “Putra Mahkota Amat Mude” (Cerita Rakyat Aceh)

Berikut adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Putra Mahkota Amat Mude” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Pada suatu masa, di Provinsi Aceh ada sebuah daerah yang bernama Negeri Alas.

Terdapatlah sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana.

Kerajaan di Negeri Alas yang damai dan indah tersebut hidup makmur dan sejahtera.

Semua rakyatnya selalu patuh dan setia kepada kepada raja.

Tapi ada satu kendala yang membuat sang Raja selalu bersedih, beliau belum dikaruniai seorang anak walau umur sang Raja sudah cukup tua.

Hati raja menjadi terenyuh, karena adiknya yang lebih muda darinya sudah mempunyai seorang anak.

Suatu ketika, di serambi istana Sang Raja duduk termenung. Diam diam ternyata ada yang memperhatikan.

Beberapa saat kemudian permaisuri sudah duduk di samping Sang Raja.

Lalu permaisuri menanyakan apakah yang sedang dipikirkan oleh Sang Raja. Kemudian sang raja menjawab :

“Duhai Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan ini”

Sang Permaisuri pun menanggapi dengan penuh perasaan untuk menenangkan hati sang suami:

“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat merindukan seorang buah hati belaian jiwa.

Kita telah mendatangkan tabib dari berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan hasil.

Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa”

Mendengar ucapan sang permaisuri, alangkah sejuknya hati sang Raja.

Beliau sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh pengertian dan perhatian kepadanya.

Mereka pun saling bertatap muka penuh kasih. Mulai dari saat itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan.

Mereka terus berdoa. Hingga pada suatu malam, sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.

Sang Raja Memanjaatkan Doa: “Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini.

Hamba rela tidak merasakan sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra”

Doa mereka pun dikabulkan. Karena sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Betapa gembiranya hati sang Raja mengetahui hal itu.

Kemudian berita tentang kehamilan permaisuri pun tersebar ke seluruh penjuru negeri.

Begitu juga rakyat negeri itu sangat gembira, karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan mewarisi tahtanya.

Hari berganti hari. Sang Raja dan Permaisuri menikmati masa-masa indah dengan penuh harap.

Kehamilan sang permaisuri pun sudah memasuki usia sembilan bulan.

Hingga pada suatu sore, sang permaisuri pun melahirkan seorang anak yang berjenis kelamin laki-laki yang sehat dan tampan.

Kemudian mereka melalui hari yang makin indah. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil menimang-nimang putranya.

Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan.

Sang Raja dan Permaisuri menjadi sangat bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doa mereka yang selama ini selalu dipanjatkan.

Setelah satu minggu kelahiran sang anak, sang Raja pun mengadakan pesta dan upacara turun mandi, yakni upacara pemberian nama.

Pesta dan upacara tersebut diadakan selama tujuh hari tujuh malam.

Acara tersebut sangat meriah, karena tamu yang diundang bukan hanya rakyat negeri Alas,

melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut maupun di darat.

Semua yang hadir dan tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria.

Dalam upacara turun mandi tersebut diadakan pemberian nama sang putra Raja, mereka pun menamainya dengan nama: Amat Mude.

Tapi sayang, beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih.

Tiba-tiba sang raja berkata lirih: “Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat.

Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak”

Sang Permaisuri diam sejenak. Setelah mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih.

Walau menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya.

Untuk mengobati penyakit sang raja, kemudian semua tabib diundang ke istana.

Tapi apa hendak dikata, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya.

Keadaan main memburuk, penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Hingga pada suatu hari, sang raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat.

Awan duka menyelimuti seluruh penjuru kerajaan. Anggota keluarga sangat berduka, demikian juga seluruh rakayat Negeri Alas juga bersedih.

Lalu tinggallah Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas.

Namun mengingat usianya yang masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas.

Karena dia sudah menjadi seorang raja, apapun perintah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda pasti dipatuhi oleh seluruh rakyat..

Fakta inilah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude.

Oleh sebab itu kemudian berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Awalnya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah.

Dengan alasan, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana.

Lalu niat jahat Raja Muda semakin hari semakin jelas. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.

Dia berkata: “Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!”

Mendengar hal itu, pengawal kerajaan menjadi heran. Tapi memang niat jahatnya sudah membara dia tetap ingin membuang Amat Mude dan ibunya.

Karena dia tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaannya.

Pengawal pun berkata: “Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini”

Tapi Raja Muda tambah murka, dia pun tetap berkeras dan mengancam semua pengawal kalau tidak melaksanakan perintahnya.

Karena diancam raja, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara,

karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.

Lalu besoknya, pergilah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan.

Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya.

Disana ibu dan anak membuat sebuah gubung kecil di bawah sebuah pohon rindang, untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam.

Hidup mereka berjalan sangat memprihatinkan. Demi bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.

Walau begitu mereka terus berusaha dan bertahan.

Hingga usia Amat Mude telah berumur 8 tahun.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.

Hingga pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya.

Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.

Setelah membuat pancing, kemudian Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan.

Dengan cepatnya, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang.

Karena melihat anaknya membawa banyak ikan, sang ibu menjadi sangat senang.

Ibunya pun memuji dan mengapresiasi keahlian anaknya yang sungguh di luar dugaan sang ibu.

Mereka pun tersenyum dan tertawa bersama.

Karena banyaknya lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan.

Kemudian timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Bersama dengan Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu.

Waktu akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tanpa diduga mereka bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah.

Ia adalah bekas sahabat suaminya dulu.

“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran.

Kemudian sang permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu.

Setelah mendengar kata permaisuri dan melihat keadaan permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut,

saudagar itu pun mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.

Ketika sudah berada di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude.

Tapi waktu sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan.

Ia kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya.

Istri Saudagar menjadi heran karena tidak biasanya perut ikan sangat keras.

Dia menduga ada isi dalam perut ikan mengandung benda yang sangat keras.

Dia pun berusaha berkali-kali menggunakan pisaunya, bahkan dengan usaha yang ekstra. Hingga akhirnya perut ikan itu pun terbelah.

Dia pun menjadi sangat kaget ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras.

Seketika itu juga dia memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut.

Mereka pun mengamati dengan seksama seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah emas murni.

Kemudian Saudagar tersebut mengatakan dengan bijak kepada istrinya bahwa setelah memasak dan menjamu permaisuri dan anaknya, supaya cepat menjual emas itu ke pasar.

Sang istri pun bertanya heran, kemudian saudagar menerangkan bahwa uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya.

Sang Saudagar ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak membantu mereka.

Setelah semua dilaksanakan, lalu saudagar itu memberi tahu kabar gembira tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah rumah yang bagus.

Ketika mendengar kata saudagar tersebut, permaisuri sangat terharu.

Ia benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada mereka.

Dia pun mengucapkan terima kasih atas kebaikan saudagar tersebut. Tapi sang saudagar menjawab:

“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada kami”

Sebelum sore datang, permaisuri dan Amat Mude pun mohon diri untuk pulang dan kembali ke gubuknya di hutan.

Sebelum meninggalkan rumah mereka, Saudagar itu pun memberikan pakaian yang bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.

Waktu pun bergulir, rumah pun mulai dibangun. Hingga akhirnya rumah permaisuri pun selesai dibangun.

Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih.

Sedangkan Amat Mude berusaha memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Dia pergi ke sungai setiap hari untuk memancing.

Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar.

Ternyata Di antara ikan-ikan yang diperolehnya ada yang bertelur emas.

Telur emas tersebut sedikit demi sedikit mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri.

Kabar tentang kehidupan mereka yang kaya raya menyebar kemana-mana. Lalu sampai juga ke telinga Pakcik Amat Mude.

Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.

Lalu Raja Muda yang serakah itu memanggil Amat Mude untuk menghadap ke istana.

Ketika Amat Mude sampai di istana, alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan memberi hormat di hadapannya.

Dia makin merasa bahwa Amat Mude benar-benar luar biasa dan akan menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja.

Dia pun mencari berbagai cara, lalu memerintahkan Amat Mude untuk pergi memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut.

Raja Muda mengatakan bahwa Buah kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda.

Tapi ternyata, lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.

Raja Muda pun mengancam: “Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati”

Tapi hati Amat Mude memang mulia, dia ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu.

Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai.

Awalnya Amat Mude kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu.

Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan.

“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.

“Sa… saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.

Setelah menyimak cerita Amat Mude tadi, Ikan Silenggang Raye,

Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya.

Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.

Amat Mude heran ketika melihat mereka sangat hormat kepadanya.

Raja Buaya pun menjawab: “Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik.

Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!”

Naga besar juga menambahkan: “Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu”.

Kemudian setelah itu, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud.

Ternyata tidaklah lama, lalu mereka pun sampai di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude.

Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan.

Sesaat kemudian, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya.

Ternyata pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa.

Kemudian Amat Mude menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya.

Setelah itu Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon.

Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya

Terdengarlah suara yang merdu: “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku”

Amat Mude terkejut dan kemudian menanyakan siapah gerangan perempuan yang berkata tadi.

Lalu terdengar jawaban: “Aku adalah Putri Niwer Gading”.

Setelah berhasil mengambil sebutir kelapa gading, Amat Mude pun turun, sesaat kemudian tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya.

Amat Mude sangat takjub ketika memandang kecantikan Putri Niwer Gading.

Setelah mengingat perkataan gadis cantik tadi sebelum memanjat pohon, maka tanpa pikir panjang Amat Mude segera mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah.

Beberapa waktu kemudian, diselenggarakanlah pesta perkawinan di rumah Amat Mude.

Acara ini dirayakan dengan sangat meriah dan dihadiri oleh banyak orang.

Kemudian setelah selesai pesta pernikahan, bersama sang istri tercinta dan ibunya,

Amat Mude pun pergi menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya.

Ini berarti Amat Mude sudah selamat dari ancaman hukuman mati. Melihat keteguha, kesabaran, dan akhlak mulia Amat Mude,

tiba-tiba Raja Muda menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya.

Hingga akhirnya Raja Muda sadar bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas.

Tidak lama kemudian, Raja Muda pun menyampaikan kepada seluruh rakyat dan menobatkan Amat Mude untuk menjadi Raja Negeri Alas.

Rakyat pun menyambut dengan sukacita.

Kerajaan pun berjalan normal seperti keinginan Almarhum Ayah Amat Mude yang arif dan bijaksana.

Legenda: “Si Parkit Raja Parakeet” (Cerita Rakyat Aceh)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Si Parkit Raja Parakeet” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering juga dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Masyarakat Aceh mempunyai daerah bermukim yang indah. Salah satunya adalah hutan yang sangat kaya kandungan isinya.

Berdasarkan cerita rakyat, pada sebuah hutan terdapat banyak burung parakeet yang hidup bersama.

Mereka sangat berbahagia menikmati kekayaan alam dan kebebasan sebagai mahluk hidup.

Sebagai burung yang selalu senang, mereka sering bernyanyi dengan suara merdu. Mereka juga suka bergotong royong dan saling asah, asih, dan asuh.

Karena hubungan mereka sangat erat, bisa dikatakan mereka memiliki sebuah kerajaan burung parakeet. Raja mereka bernama si Parkit.

Suatu ketika, tanpa diduga kebahagiaan mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu.

Dia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut.

Kemudian si Pemburu itu mendekati kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya.

Supaya ketika keluar sarang, para burung akan terperangkap.

Dia pun bergumam bahwa dia akan kaya seandainya bisa menangkan dan menjual kawanan burung parakeet yang banyak tersebut.

Ketika bergumam, ternyata didengar oleh sebagian burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan.

Kemudian kelompok burung tersebut berkicau-kicau untuk mengingatkan antara sesama burung yang merupakan saudara mereka sendiri.

Mereka pun tahu bahwa ada bahaya yang mengancam, dan tidak berani untuk keluar sarang.

Tapi karena terpaksa harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya.

Sayang sekali, ternyata yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Musibah pun terjadi burung-burung parakeet itu terjabak pada perekat si Pemburu.

Burung-burung tersebut meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat, tapi usaha mereka sia-sia, karena mereka tidak bisa lepas dari perekat tersebut.

Kemudian semua burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, tapi tidak demikian dengan sang pemimpin yaitu Raja burung parakeet yang bernama si Parkit.

Dengan bijaksananya, Parkit pun berbicara dengan lantang dan meminta semua rakyatnya untuk tenang.

Sang raja pun menyampaikan bahwa jebakan ini adalah berupa perekat yang dipasang si Pemburu. Artinya pemburu ingin menangkap burung hidup-hidup.

Kesimpulannya, seandainya semua burung mati, maka pemburu itu tidak akan mengambil bangkai burung yang mati.

Lalu si Parkit memerintahkan supaya semua burung yang terjebak untuk pura-pura mati. Sang Raja menginstruksikan:

“Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu.

Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini.

Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”

Besok harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya.

Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak.

Dia menyangka burung parakeet tersebut telah mati semua, lalu dia membiarkannya.

Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset.

Kemudian kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit.

Setelah itu sang Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu.

Tapi dia masih bisa tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya.

Kemudian pemburu menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit.

“Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah.

Si Parkit menjadi ketakutan mendengar bentakan si Pemburu.

Tidak mau kehilangan akal, Si Parkit yang cerdik segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu.

“Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit.

“Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah me­nipuku.

Kalau tidak, pasti aku sudah banyak menang­kap kalian!” kata si Pemburu dengan marah.

“Iya. Tapi itu kan bukan salahku. Ampuni hamba, Tuan! Hamba akan menghibur Tuan setiap hari!” kata si Parkit memohon.

“Menghiburku?” tanya si Pemburu.

“Betul, Tuan. Hamba akan bernyanyi setiap hari untuk Tuan!” seru si Parkit.

Si Pem­buru diam sejenak memikirkan tawaran burung parakeet itu. “Memangnya suaramu bagus?” tanya si Pemburu itu mulai tertarik.

Setelah itu si Parkit pun bernyanyi. Suara si Parkit yang merdu itu berhasil mumbujuk si Pemburu, sehingga ia tidak jadi dibunuh.

“Baiklah, aku tidak akan membu­nuhmu, tapi kamu harus bernyanyi setiap hari!” kata si Pemburu. Karena takut dibunuh, si Parkit pun setuju.

Kemudian, si Pemburu membawa si Parkit pulang.

Sesampai di rumahnya, si Parkit tidak dikurung dalam sangkar, tapi salah satu kakinya diikat pada tiang yang cukup tinggi.

Mulai saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi untuk menghibur si Pem­buru itu. Si Pemburu pun sangat senang mendengarkan suara si Parkit.

“Untung….aku tidak membunuh burung parakeet itu”, ucap si Pemburuh. Ia merasa beruntung, karena banyak orang yang memuji kemerduan suara si Parkit.

Hingga pada suatu hari, kemerduan suara si Parkit tersebut terdengar oleh Raja Aceh di istananya. Raja Aceh itu ingin agar burung parakeet itu menjadi miliknya.

Lalu sang Raja memanggil si Pemburu menghadap kepadanya. Si Pemburu pun datang ke istana dengan perasaan bimbang, karena ia sangat sayang pada si Parkit.

Ketika berada di hadapan Raja Aceh, ia tidak bersedia memberikan si Parkit yang bersuara merdu itu kepada Sang Raja.

“Ampun, Baginda! Hamba tidak bermaksud menentang keinginan Baginda!” kata si Pemburu memberi hormat.

“Lalu, kenapa kamu tidak mau memberikan burung itu?” tanya sang Raja.

“Ampun, Baginda! Mohon beribu ampun! Hamba sangat sayang pada burung tersebut.

Selama ini hamba telah memeliharanya dengan baik”, jawab si Pemburu.

Mendengar jawaban itu, “Kalau begitu, bagaimana jika kuganti dengan uang yang sangat banyak.?”, sang Raja menawarkan.

Pemburu itu pun terdiam sejenak memikirkan tawaran itu.

Kemudian si pemburu menjawab “Ampun, Baginda! Jika Baginda benar-benar menyukai burung parakeet ter­sebut, silakan kirim pengawal untuk me­ngambilnya!” kata si Pemburu sambil memberi hormat.

Lalu sang Raja sangat senang mendengar jawaban si Pemburu.

Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengambil burung parakeet tersebut dan menyerahkan uang yang dijanjikannya kepada si Pemburu.

Kemudian si Parkit pun dibawa ke istana dan dimasukkan ke dalam sangkar emas.

Setiap hari si Parkit disediakan makanan yang lezat dan mewah.

Walaupun semuanya serba enak, tapi si Parkit tetap tidak senang, karena ia merasa terpenjara.

Dalam hati dia mendambakan kembali ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu, agar ia bisa terbang bebas bersama rakyatnya.

Si Parkit terus merasa sedih, dan sudah beberapa hari tidak mau menyanyi untuk sang Raja.

Ketika mendapati burung parakeetnya tidak mau menyanyi lagi, sang Raja mulai bimbang memikirkan burung parakeetnya.

Karena ingin tahu keadaan burung itu yang sebenarnya, maka sang Raja pun memanggil petugas istana

“Kenapa burung parakeetku tidak mau bernyanyi lagi beberapa hari ini? Dia sakit, ya?”.

Lalu petugas Istana itu menjawab, “Maaf, Tuanku. Hamba juga tidak tahu apa sebabnya.

Saya telah memberinya makan seperti biasanya, tetapi tetap saja ia tidak mau bernyanyi,”

Setelah mendengar jawaban dari Petugas Istana tersebut, Raja Aceh menjadi sedih melihat burung parakeetnya yang tidak mau bernyanyi lagi.

“Ada apa, ya?” gumam sang Raja.

Hingga beberapa hari kemudian, si Parkit bah­kan tidak mau memakan apa pun yang di­sediakan di dalam sangkar emasnya.

Si Parkit terus teringat pada hutan belantara tempat tinggalnya dulu. Si Parkit pun mulai berpikir,

“Bagaimana caranya ya….aku bisa keluar dari sangkar ini?”, gumam si Parkit.

Setelah itu, ia pun menemukan akal, “Aahh….aku harus berpura-pura mati lagi!”,

si Parkit tersenyum sambil membayangkan dirinya lepas dan terbang tinggi.

Kemudian pada suatu hari, ia pun berpura-pura mati.

Petugas Istana yang mengetahui si Parkit mati segera menghadap sang Raja.

“Ampun, Tuanku. Hamba sudah merawat dan memelihara sebaik mung­kin, tapi burung parakeet ini tidak tertolong lagi.

Mungkin karena sudah tua,” kata Petugas Istana melaporkan kematian si Parkit.

Mendengar itu Sang Raja sangat sedih mengetahui kematian burung parakeetnya, sebab tidak akan ada lagi yang meng­hi­burnya.

Walau sang Raja masih memiliki burung parakeet yang lain, tetapi suaranya tidak semerdu si Parkit. Karena si Parkit tidak bisa tertolong lagi.

Raja pun menginstruksikan “Siapkan upacara penguburan! Kuburkan burung parakeetku itu dengan baik!”

“Siap, Tuanku! Hamba laksanakan!” sahut Petugas Istana.

Lalu penguburan si Parkit akan dilaksanakan dengan upacara kebesaran kerajaan.

Pada saat persiapan penguburan, si Parkit dikeluarkan dari sangkarnya karena dianggap sudah mati.

Kemudian pada saat ia melihat semua orang sibuk, dengan cepatnya ia terbang setinggi-tingginya.

Di udara ia berteriak dengan riang gembira, “Aku bebaasss…!!! Aku bebaasss….!!!.

Orang-orang hanya terheran-heran melihat si Parkit yang dikira sudah mati itu bisa terbang tinggi.

Jadinya si Parkit yang cerdik itu bisa terbang dengan leluasa ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu yang ia cintai.

Kemudian di hutan, si Parkit pun disambut kedatangannya dengan suka cita dan penuh kegembiraan oleh rakyatnya.

Mereka pun lalu menikmati kebebasan bersama seperti dulu lagi, di tengah hutan belantara yang penuh keindahan.